"Kenshi" atau "Kempoka"?

Beberapa hari yang lalu, salah seorang junior saya di Shorinji Kempo bertanya di grup media sosial. Pertanyaannya sangat menarik: "Kenapa praktisi Shorinji Kempo disebut kenshi, bukan kempoka seperti judo ~judoka atau karate ~karateka? Terus apa beda arti kata kenshi di Shorinji Kempo dan kendo?".

Walaupun sudah dijawab dengan cukup baik oleh salah seorang rekan sabuk hitam di dalam grup tersebut --gini jawabannya:

"Kalo dari term 'kenshi' itu sendiri artinya orang yang belajar ilmu bertarung dengan senjata tajam. Ya bisa di bikin anagram dari 2 kata 'ken' sama 'deshi' yang juga bisa dibaca murid pedang. Cuma kalo kita kembalikan ke dalam term punya Shorinji Kempo, arti dari kata 'ken' sendiri dilihat dari huruf kanjinya bisa diartikan sebagai kekuatan atau 'tinju' (fist). Jadi khusus untuk Shorinji Kempo penggunaan istilah 'kenshi' ini bakal menjelaskan identitas akar sejarah keilmuannya sendiri tanpa harus terikat dengan identitas budo yang lain"-- masih ada beberapa hal yang kurang jelas.

Di postingan ini saya akan berusaha menjelaskannya. Ingat bahwa penjelasan ini hanya sebatas pengetahuan dan pendapat saya, bila teman-teman pembaca punya pendapat lain, silakan dibagikan di kolom komentar.

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu melihat sedikit sejarah dari Shorinji Kempo.

Shorinji Kempo dikembangkan oleh Doshin So berdasarkan berbagai aliran quan fa (kungfu) Tiongkok kuno terutama giwamon-ken, byakuren-ken, dan kakuritsu-ken. Doshin So sendiri adalah pewaris ke-21 dari giwamon-ken menggantikan gurunya Wen Laoshi. Setelah kembali ke Jepang --Jepang baru saja mengalami kekalahan dalam perang dunia ke-2-- Doshin So melihat kemerosotan moral bangsanya dan bertekad untuk memperbaikinya dengan pendidikan dan pelatihan mental dan fisik melalui seni beladiri.

Doshin So kemudian menyusun ulang ilmu beladiri yang didapatkannya di Cina dan menggabungkannya dengan beberapa aliran beladiri seperti kendo dan jujutsu (utamanya fusen-ryu dan hakko-ryu). Doshin So menyebut seni beladiri 'baru' ciptaannya ini dengan sebutan "siauw liem sie quan fa" yang dalam lafal Jepang menjadi "shorinji kempo". Penamaan ini dilakukan karena giwamon-ken adalah salah satu aliran kungfu yang diajarkan di kuil shaolin.

Disini terlihat bahwa kata "kempo" atau "quan fa" bukan hanya milik Shorinji Kempo. Bila kita teliti lebih dalam lagi, quan fa adalah istilah dalam bahasa cina yang dipakai untuk menjelaskan seni beladiri (quan fa = seni beladiri). Quan fa berarti "metode bertinju/bertarung" --"quan" berarti pukulan, tinju sedangkan "fa" berarti metode, cara, atau jalan.

Akhiran -ka (dalam judoka misalnya) sendiri bisa berarti macam-macam, beberapa di antaranya adalah ahli, orang yang ber-, contoh judoka berarti ahli judo atau orang yang berjudo.

Lalu kenapa praktisi Shorinji Kempo tidak disebut kempoka? Jawabannya adalah kempo bukanlah aliran seni beladiri, kempo adalah seni beladiri itu sendiri (salah satu aliran kempo adalah Shorinji Kempo). Jadi lucu bila praktisi Shorinji Kempo disebut kempoka yang berarti ahli seni beladiri atau orang yang ber-seni beladiri, padahal praktisi Shorinji Kempo bukanlah seorang yang ahli (semua) seni beladiri (hanya ahli dalam satu aliran seni beladiri saja yaitu Shorinji Kempo).

Selain itu, akhiran -ka hanya bisa digunakan untuk budo yang berakhiran -do seperti judo dan kendo (karate bukanlah pengecualian karena nama 'lengkap' karate adalah karatedo).

Dan seperti jawaban teman saya di atas, kenshi tersusun atas dua karakter huruf kanji yaitu "ken" dan "shi". "Ken" (kanji: 拳) berarti tinju (baca: seni beladiri) [bedakan dengan "ken" (kanji: 剣) yang berarti pedang] dan "shi" (kanji: 士) yang berarti "scholar" atau orang yang mempelajari sesuatu, "shi" juga bisa berasal dari kata "deshi" yang berarti murid.
Bukan..bukan kenshi(n) yang ini :-)
Jadi "kenshi" berarti murid yang sedang mempelajari teknik bertinju. Perhatikan saya menggunakan kata "mempelajari" karena menurut saya tidak ada yang namanya ahli beladiri, setinggi apapun tingkatan seseorang dalam suatu seni beladiri, orang tersebut harus tetap terus berlatih, kalau tidak dia akan kehilangan 'sentuhannya' seperti kata Gichin Funakoshi dalam niju-kun: "Karate (martial art) is like boiling water, without heat it returns to its tepid state".

Thanks for reading "Kenshi" atau "Kempoka"?. Please share...!

About dudundeden

Previous
« Prev Post
    Blogger Comment
    Facebook Comment

No Spam, Please...!