Pelajaran Hidup yang Bisa Dipetik dari Video Games

Video games seringkali dicap memberi pengaruh buruk dan mengajarkan kekerasan pada pemainnya. Cap yang konyol dan mengada-ada menurut saya.

Image dari flickr.com
Bukan berarti saya mendukung setiap anak berusia 7 tahun untuk memainkan Grand Theft Auto (GTA) V --yang jelas akan memberi pengaruh buruk karena anak-anak tersebut 'belum waktunya' memainkan GTA V yang mempunyai rating ESRB 'M', tetapi apakah game yang mengandung konten kekerasan seperti GTA, Resident Evil, atau Dead Rising akan mempengaruhi pemainnya untuk berbuat kekerasan? Jawabannya tentu saja tidak.

Saya mengenal banyak gamer yang hobi memainkan game dengan label "contain scene of explicit violence and gore" tetapi mereka nggak pernah sekalipun berbuat kekerasan. Saat saya masih SMP-SMA --ketika game berjudul "Mortal Kombat" sedang ngetren-ngetrennya-- setiap hari saya bermain "Mortal Kombat" di Sega Genesis bersama kakak saya (dan merasa puas setiap kali berhasil 'mengeluarkan' fatality dan brutality) tetapi saya juga nggak menjadi orang yang sadis.

Sepanjang 'karir' saya bermain game (sejak kelas 2 SD btw), saya justru banyak mendapat pelajaran berharga dari video games. Apa sajakah itu?

#1. Apa yang kita cari terkadang tidak ada di tempat kita mencarinya 
Super Mario Bros. (SMB) adalah salah satu game konsol pertama yang saya mainkan (sebelumnya saya banyak memainkan game and watch yang dulu saya sebut gimbot). Dalam SMB tugas Anda sebagai Mario adalah menyelamatkan putri kerajaan jamur yang diculik. Setelah melalui banyak hal Anda tiba di istana si penculik (bernama depan 'Bow' dan nama akhir 'ser') dan akhirnya berhasil mengalahkannya dengan cara menceburkannya ke dalam lava atau 'menyemburnya' dengan bola api. Tetapi ketika Anda tiba di ruangan dimana sang putri seharusnya disekap, Anda hanya mendengar (baca: membaca): "Thank you Mario, but our princess is in another castle", KZL nggak sih?

Pelajaran yang bisa dipetik: apa yang Anda cari terkadang tidak berada di tempat yang Anda pikirkan. Saya pernah bingung mencari-cari kunci sepeda motor yang saya pikir berada di saku celana, tetapi ternyata saya menemukannya di bawah bantal. Intinya adalah jangan berhenti mencari bila Anda belum menemukan apa yang Anda cari di tempat yang seharusnya Anda bisa menemukan apa yang Anda cari :).

#2. Segala sesuatu ada manfaatnya, jangan membuang/menjual apapun
Role Playing Game (RPG) adalah genre game favorit saya. Di awal permainan --ketika musuh/monster memberikan exp dan 'uang' yang nilainya kecil-- untuk membeli senjata dan armor yang lebih kuat Anda harus menjual senjata atau armor Anda sebelumnya (yang lebih lemah). Di game "Final Fantasy IX" ada sebuah dungeon yang bernama Ipsen's Castle dimana di dalam dungeon ini semakin lemah senjata yang Anda gunakan semakin besar damage yang Anda hasilkan saat menyerang musuh. Tetapi hampir bisa dipastikan Anda telah menjual semua senjata Anda yang lemah (untuk membeli senjata yang lebih kuat) jauh sebelum mencapai tempat ini (tempat ini baru bisa diakses di pertengahan disc 3). Untungnya Squaresoft --developer game ini-- berbaik hati karena kita masih bisa membeli lagi senjata-senjata tersebut atau kita juga bisa menemukannya di dalam dungeon tersebut.

Image dari en.wikipedia.org
Pelajaran yang bisa dipetik: saya tidak meminta Anda untuk menyimpan barang-barang yang tidak berguna, tetapi tentunya Anda bisa memilah-milah mana barang yang masih bisa digunakan dan mana barang yang sudah benar-benar tidak berguna.

#3. Semakin sering Anda melakukan sesuatu semakin ahli pula Anda melakukannya
Final Fantasy II adalah salah satu game Final Fantasy yang paling 'aneh'. Tidak seperti game RPG lain, Anda tidak akan mengalami 'level up' atau menemukan exp. poin disini. Sebagai gantinya Anda akan menemukan sistem yang 'nggak biasa'. Misalnya Anda ingin Firion --salah satu karakter dalam game ini-- ahli menggunakan pedang, Anda harus meng-equip Firion dengan senjata jenis pedang dan menggunakannya berulang kali dalam battle untuk menyerang musuh. Semakin sering Firion menggunakan pedang semakin meningkat pula kemampuannya.

Pelajaran yang bisa dipetik: Anda nggak akan mungkin langsung ahli melakukan sesuatu. Anda harus mempelajari dan mempraktekkannya berkali-kali. Mungkin pada mulanya Anda tidak begitu bisa melakukan sesuatu, tetapi setelah berulang kali melakukannya (dan berulangkali melakukan kesalahan) kemampuan Anda akan semakin meningkat. Demikian pula dalam seni beladiri --hobi saya yang lain selain bermain game-- semakin sering kita berlatih sebuah teknik, kemampuan kita mengaplikasikan teknik tersebut juga akan semakin meningkat. 

#4. Seorang 'teman' tidak selalu mendukung Anda, seorang 'musuh' tidak selalu menentang Anda
Xenoblade Chronicles adalah salah satu game RPG terpanjang yang pernah saya mainkan (butuh waktu 102 jam untuk menamatkannya). Di dalam game yang menceritakan konflik antara homs (manusia) dan mechon (sejenis robot/android) ini, ada dua karakter yang menarik yaitu Dickson dan Egil. Dickson yang sejak awal permainan selalu mendukung Shulk (karakter utama) dan teman-temannya ternyata adalah kaki tangan Zanza (antagonis utama) dan bahkan sempat 'membunuh' Shulk, sedangkan Egil --yang adalah pemimpin mechon-- pada akhirnya mempercayakan tugas untuk mengakhiri konflik dan mendamaikan kedua ras mereka kepada Shulk. 

Pelajaran yang bisa dipetik: bukannya saya nggak percaya dengan pertemanan sejati, tetapi ada orang yang berteman dengan kita hanya untuk tujuan tertentu dan berhenti menjadi teman kita setelah tujuannya tercapai. Demikian pula dengan seorang musuh, mungkin seseorang memusuhi kita karena mempunyai pandangan yang bertentangan dengan pandangan kita, tetapi setelah kedua pandangan tersebut bisa disatukan, 'musuh' tersebut justru menjadi seorang sahabat. 

Image dari en.wikipedia.org
#5. Teman Anda kadang mengambil keuntungan dari Anda
"Contra" adalah salah satu game terbaik di konsol Nintendo. Contra adalah game bergenre run n' gun yang susahnya minta ampun, dan berbeda dengan game lain yang (biasanya) lebih mudah bila dimainkan berdua, game ini justru bertambah sulit bila dimainkan oleh dua orang. Walaupun terdapat cheat yang bisa menambah 'nyawa' karakter Anda menjadi 30 (dari sebelumnya cuma 3), cheat tersebut hanya sedikit mempermudah game ini. Yang bikin kzl adalah bila kita bermain dengan teman yang 'kurang pintar', yang mati setiap 5 detik sekali. Bila 'nyawa' teman kita tersebut habis, dia masih bisa melanjutkan permainan dengan mengambil 'nyawa' kita.

Pelajaran yang bisa dipetik: hubungan pertemanan adalah hubungan yang harusnya bersifat simbiosis mutualisme, tetapi terkadang ada juga 'teman' yang menjadi parasit, hanya mengingat kita bila dirinya sedang kesusahan dan melupakan kita saat dirinya senang.

Itulah dia beberapa pelajaran hidup yang bisa diambil dari dunia video games walaupun sedikit agak maksa hehe. Anda yang menilai bahwa game adalah sesuatu yang buruk, semoga artikel ini bisa sedikit mengubah penilaian Anda.

Baca juga Benarkah Video Games Meningkatkan Refleks dan Mempercepat Proses Pengambilan Keputusan?  

Thanks for reading Pelajaran Hidup yang Bisa Dipetik dari Video Games. Please share...!

About dudundeden

Previous
« Prev Post
    Blogger Comment
    Facebook Comment

No Spam, Please...!