Paradox Seni Beladiri

Memukul, menendang, membanting, dan mengunci adalah beberapa kata yang bisa merangkum aspek fisik dari apa yang kita kenal sebagai seni beladiri.

Image dari en.wikipedia.org
Sekarang coba Anda pergi keluar rumah dan tanyakan pendapat dari siapapun yang Anda temui pertama kali tentang orang yang sukanya memukul, menendang, membanting, dan mengunci. Pendapat mereka (orang yang Anda tanyai) hampir bisa dipastikan 100% adalah... orang tersebut (yang suka memukul, menendang, membanting, dan mengunci) adalah orang gila, sadis, ataupun orang yang menyukai kekerasan.

Tapi tunggu dulu... bukankah memukul, menendang, membanting, dan mengunci adalah 'aktivitas' yang selalu Anda lakukan saat berlatih seni beladiri? Apakah itu berarti berlatih seni beladiri itu gila dan sadis? Atau dengan kata lain apakah Anda (yang berlatih seni beladiri) adalah orang yang gila, sadis, dan suka kekerasan? Jawabannya tentu saja tidak.

Tapi itulah yang menjadi pendapat banyak orang, bahwa seni beladiri mengajarkan kekerasan, bahwa seni beladiri yang mengajarkan 'kekerasan yang terkontrol' dianggap lebih 'sadis' daripada olahraga lain seperti sepak bola misalnya dimana adegan memukul, menendang, membanting, dan mengunci* kadang juga sering terjadi walaupun secara spontan dan 'nggak disengaja'. Benarkah memang seperti itu? Sekali lagi tentu saja tidak.

Anda perlu bukti?

Menurut Wikipedia seni beladiri adalah satu kesenian yang timbul sebagai satu cara seseorang mempertahankan atau membela diri. Jadi seni beladiri adalah suatu bentuk seni yang digunakan untuk membela diri BUKAN untuk melakukan kekerasan.

Masih kurang yakin?

Saya mengenal banyak praktisi/seniman seni beladiri, dan mereka semua adalah orang-orang yang paling santun, sopan, dan low profile yang saya kenal.

Ah... itu kan pendapat agan, bisa saja agan bohong.

Ok, mari kita lihat bukti lain. 

Karena seni beladiri yang sedang saya pelajari berasal dari Jepang, saya akan mengambil contoh dari situ. Kalau Anda masih menganggap bahwa seni beladiri itu sama dengan kekerasan, tentunya orang-orang darimana seni beladiri tersebut berasal (dalam contoh saya orang Jepang) adalah orang-orang barbar, tidak berbudaya, dan suka dengan kekerasan. Tetapi kenyataannya sangat lain, orang Jepang adalah orang yang paling tertib dan paling sopan di dunia. Bahkan menurut cerita seorang teman yang pernah ke Jepang, dalam keadaan mabuk saja orang-orang Jepang masih bisa bilang "sumimasen" (permisi).

Kalau Anda perlu bukti dan penasaran silakan Anda baca artikel yang sangat menarik tentang tatakrama orang Jepang hasil tulisan Deni Suryana

Bagaimana mungkin orang-orang seperti itu melahirkan banyak seni beladiri (bahkan mendunia) yang --katanya-- mengajarkan kekerasan? 

Lalu buat apa berlatih seni beladiri kalau tidak untuk berkelahi atau melakukan kekerasan?

Seni beladiri justru mengajarkan perdamaian kepada para praktisinya. 

Kok aneh? 

Itulah yang saya sebut sebagai 'paradox seni beladiri'. 

Saya tutup artikel ini dengan percakapan antara seorang murid dengan guru beladirinya (sengaja saya tulis dalam bahasa Inggris biar kelihatan pinter :-)).

Student: "Sensei, you teach me how to fight but you talk about peace. How do you reconcile the two?"
Sensei: "It is better to be a warrior in a garden then to be a gardener in a war"


---------- 

* saya harusnya dapat hadiah payung cantik karena menyebutkan kata memukul, menendang, membanting, dan mengunci sebanyak 5... eh 6 kali ding hehe.

Thanks for reading Paradox Seni Beladiri. Please share...!

About dudundeden

Previous
« Prev Post
    Blogger Comment
    Facebook Comment

No Spam, Please...!